Gimana sih Perkembangan Kognitif pada Remaja?
menjawab :
Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.
Selasa, 30 September 2008
Perkembangan Kognitif pada Remaja?
Minggu, 31 Agustus 2008
Mendongeng Baik Untuk Anak Dan Orang Tua ?
Mendongeng Katanya Baik Untuk Anak Dan Orang Tua Ya ? Kok Bisa Dok ?
menjawab :
Membicarakan kedekatan antara orangtua dengan anak-anaknya sama halnya dengan membicarakan komunikasi dua arah antara keduanya. Tradisi ini tidak sulit untuk dibangun dan bisa dimulai dengan kebiasaan mendongeng dari para orangtua kepada anaknya.
Di sela-sela kesibukan pekerjaannya atau ketika mengantarkan anak-anak untuk tidur, orangtua bisa menyisipkan nilai-nilai moral melalui dongeng yang diceritakannya. Pesan moral yang ditanamkan sedikit demi sedikit -- seperti prinsip menabung -- akan mengendap dalam memori sang anak sehingga menjadi sesuatu nilai yang akan dibawanya hingga dewasa.
Melalui dongeng yang diceritakan orangtuanya, anak-anak bisa sekaligus mengembangkan imajinasinya. Pada saat yang sama, sang anak bisa bertanya banyak mengenai hal-hal yang menjadi pertanyaan atau pun mengganggu pikirannya. Tidak saja berkenaan dengan dongeng yang didengarnya tetapi juga berkenaan dengan pengalaman hidupnya sehari-hari.
Pada akhirnya, tradisi mendongeng ini akan mempererat hubungan antara para orang tua dengan anak-anaknya. Secara psikologis, anak merasa diperhatikan, disayangi sekaligus dijaga. Ini akan membuat sang anak tumbuh menjadi remaja yang baik dan kemudian menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bijaksana.
Kamis, 03 Juli 2008
Bagaimana bisa terjadi ketergantungan narkotika ?
Bagaimana bisa terjadi ketergantungan narkotika ?
Tidak semua yang baru mencoba narkotika dapat menjadi ketergantungan. Ada beberapa tahap yang dilalui setelah mencoba dan menikmati narkotika yaitu menjadi pemakaian sosial yang bertujuan hanya untuk bersenang-senang saja. Peningkatan selanjutnya menjadi pemakaian situasi artinya menggunakan narkotika pada saat-saat tertentu misalnya untuk menghalau perasaan stres, depresi atau sedih. Namun bilamana dipakai terus menerus minimal 1 bulan tanpa indikasi medis atau telah terjadi gangguan fungsi sosial maka keadaan ini telah bersifat menyimpang atau patologis atau dikatakan telah menyalahgunakan narkotika (abuse). Tingkat terakhir merupakan tingkat ketergantungan dengan adanya toleransi tubuh dan timbulnya gejala putus narkotika bila pemakaian dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah dosisnya.
Senin, 30 Juni 2008
Fenomena Kenakalan Remaja, Kok Bisa ?
Masalah Sosial yang dikategorikan dalam perilaku menyimpang diantaranya adalah kenakalan remaja. Untuk mengetahui tentang latar belakang kenakalan remaja dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan individual dan pendekatan sistem.
Dalam pendekatan individual, individu sebagai satuan pengamatan sekaligus sumber masalah.
Untuk pedekatan sistem, individu sebagai satuan pengamatan sedangkan sistem sebagai sumber masalah.
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh suatu lembaga sosial, diperoleh hasil bahwa ternyata ada hubungan negatif antara kenakalan remaja dengan keberfungsian keluarga, artinya semakin baik fungsinya maka akan semakin rendah tingkat kenakalan anak-anaknya atau kualitas kenakalannya semakin rendah. Di samping itu penggunaan waktu luang yang tidak terarah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang.
