Rabu, 20 Februari 2008

Berikan Anak Makanan Yang Memenuhi Kebutuhan Nutrisi

http://4.bp.blogspot.com/_DXJElfjepYw/SQgf9xkKsKI/AAAAAAAAAuA/NWl82ctV_Cw/s320/DSC04529.jpg

Sabtu, 16 Februari 2008

Kapankah Anak Belajar Bahasa Inggris?

Kapankah Anak Belajar Bahasa Inggris?

Ada anggapan, semakin muda usia semakin mudah anak belajar bahasa daripada orang dewasa. Ada pula yang berpendapat, belajar bahasa asing sejak dini bukan jaminan. Sementara yang lain bilang, keberhasilan belajar bahasa asing sangat ditentukan oleh motif atau kebutuhan berkomunikasi dalam lingkungannya. Mana yang benar?

Masa emas belajar bahasa
Beberapa pakar bahasa mendukung pandangan "semakin dini anak belajar bahasa asing, semakin mudah anak menguasai bahasa itu". Misalnya, McLaughlin dan Genesee menyatakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh bahasa tanpa banyak kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa.

Demikian pula Eric H. Lennenberg, ahli neurologi, berpendapat bahwa sebelum masa pubertas, daya pikir (otak) anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah belajar bahasa. Sedangkan sesudahnya akan makin berkurang dan pencapaiannya pun tidak maksimal.

Dr. Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, dalam tulisannya Pangajaran Bahasa Inggris di SD dan SMTP, menyebut bahwa usia 6 - 12 tahun, merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis.

Cukup dengan pemajanan diri (self-exposure) pada bahasa tertentu, misalnya ia tinggal di suatu lingkungan yang berbahasa lain dari bahasa ibunya, dengan mudah anak akan dapat menguasai bahasa itu. Masa emas itu sudah tidak dimiliki oleh orang dewasa. Namun, bukan berarti orang dewasa tidak mampu menguasai bahasa kedua (bahasa asing).

Lenneberg mengemukakan, orang dewasa dengan inteligensia rata-rata pun mampu mempelajari bahasa kedua selewat usia 20 tahun. Bahkan ada yang mampu belajar berkomunikasi bahasa asing pada usia 40 tahun.

Kenyataan itu tidaklah bertentangan dengan hipotesis mengenai batasan usia untuk penguasaan bahasa karena penataan bahasa pada otak sudah terbentuk pada masa kanak-kanak. Hanya saja lewat masa pubertas terjadi "hambatan pembelajaran bahasa" (language learning blocks). "Jadi, maklum bila belajar bahasa selewat masa pubertas, justru lebih repot daripada ketika usia lima belas atau lima tahun," ujar Bambang.

Pada penguasaan bahasa pertama dikenal istilah "masa kritis" (critical period). Pada penguasaan bahasa kedua (bahasa asing) terdapat istilah "masa peka" (sensitive period). Berdasarkan penelitian Patkowski, masa peka penguasaan sintaksis bahasa asing adalah masa sampai usia 15 tahun.

Anak yang dihadapkan pada bahasa asing sebelum usia 15 tahun mampu menguasai sintaksis bahasa asing seperti penutur asli. Sebaliknya, pada orang dewasa hampir tak mungkin aksen bahasa asing dapat dikuasai. Lebih detail dipaparkan oleh peneliti lain.

Penelitian Fathman terhadap 200 anak berusia 6 - 15 tahun yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di sekolah di AS, menunjukkan bahwa anak yang lebih muda (usia 6 - 10 tahun) lebih berhasil pada penguasaan fonologi (tata bunyi) bahasa Inggris. Sedangkan pada anak lebih tua (11 - 15 tahun) lebih berhasil pada penguasaan morfologi (satuan bentuk bahasa terkecil) dan sintaksisnya (susunan kata dan kalimat).

Masih tentang penguasaan aspek tertentu dari bahasa asing dalam kaitannya dengan faktor usia, Scovel menyebutkan, kemampuan untuk menguasai aksen bahasa asing berakhir sekitar usia 10 tahun. Sedangkan penguasaan kosa kata dan sintaksis, menurut catatannya, tidak mengenal batasan usia.

Pro-kontra periode kritis Masa ideal anak belajar bahasa bertolak dari apa yang disebut periode kritis bagi penguasaan bahasa ibu. Periode kritis sebenarnya masih berupa hipotesis bahwa dalam perjalanan hidup manusia terdapat jadwal biologis yang menentukan masa-masa kegiatan seseorang (Brown, 1994).

Periode kritis sering dihubung-hubungkan dengan proses pembelahan antara otak kiri dengan otak kanan. Hasil penelitian neurologis menyebutkan, pada usia menjelang dewasa, fungsi-fungsi kemanusiaan terbagi atas dua bagian. Fungsi intelektual, logika, analisis, dan kemampuan berbahasa berada pada otak bagian kiri.

Sedangkan fungsi yang berhubungan dengan emosi dan fungsi lain yang bersifat sosial dikendalikan oleh belahan otak kanan. Ketika memasuki proses pembelahan otak itulah, menurut para pakar anatomi bahasa, masa peka bahasa itu berlangsung. Setelah proses "penyebelahan" (lateralization) otak selesai, menurut hipotesis Lenneberg, perkembangan bahasa cenderung menjadi "beku". Keterampilan dasar yang belum dapat dicapai pada masa itu (kecuali untuk artikulasi) biasanya akan tetap tidak sempurna.

Rabu, 13 Februari 2008

Kenapa Anak Dijauhi Temannya?

Dok Kenapa Anak Dijauhi Temannya?

Sebagai orang tua tentu tidak menginginkan bila anak dijauhi temannya.sebagai orang tua langkah pertama yang paling tepat adalah melakukan penyelidikan mengapa anak menganggap ia dijauhi oleh temannya.

Setelah anda ,mendapatkan informasi yang lengkap baru anda sebagai orang tua dapat mengambil tindakan, apakah perkatan anak anda benar atau perakataan anak anda terlalu berlebihan. Jika tidak terjadi apa-apa, melainkan itu hanya argument anak anda yang terlalu berlebihan, maka anda bisa melakukan pendekatan dan memberikan pengertian bahwa teman-temannya senang bermain dengan anak anda.

Tetapi jika anak anda benar-benar tidak mempunyai teman, maka anda harus mulai berfikir mengapa anak anda tidak punya teman. Mengikuti bagaimanakah cara anak anda bergaul, dan bagimanakah sifat anak anda ketika bergaul. Jika anda telah menemukan jawabannya, maka anda harus memberikan pengertian kepada anak anda bahwa sifat yang dimiliki tidak baik, selain itu anda harus dapat menagjarkan dan menanamkan sifat yang baik pada anak anda.

Minggu, 10 Februari 2008

Merangsang Anak supaya Bisa Belajar ?

Gimana sih Cara Orang Tua Merangsang Anak supaya Bisa Belajar ?

Sering kali beberapa orang tua merasakan kesulitan dalam merangsang anak agar untuk belajar, hingga sering kali tanpa kita sadari orang memberikan perlakuan terhadap dengan memberikan paksaan dan terkadang menggunakan ancaman agar anak belajar, lalu bagaimana cara yang bisa diandalkan agar anak lebih termotivasi untuk belajar dan bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dari sekolah?

Memang dalam hal ini peranan orang tua dalam mendidik anak sangat penting, meskipun tidak sedikit orang tua yang mengalami kegagalan setiap memberikan arahan pada anak. Beberapa contoh yang kurang baik dilakukan oleh para orang tua yang saya perhatikan setiap kali anak mendapatkan tugas dari sekolah, yaitu membantu mengerjakan tugas tersebut tanpa memberikan penjelasan atau arahan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, sudah jelas hal ini bukanlah suatu contoh yang baik untuk ditiru, sehingga kerap kali ketika anak tersebut ditanya oleh guru akan mengalami kesulitan.

Sebenarnya dalam hal ini apabila para orang tua memperhatikan dalam hal ini, akan menyangkut dengan kesenangan atau hobby anak tersebut, sehingga kerap kali malas untuk belajar. Sebagai contoh kecil seperti anak yang sudah mengenal dunia game, seperti playstation, nintendo, bahkan game online maka anak akan cenderung fokus dengan permainan tersebut, dan tidak sedikit anak sering kali lupa akan belajar, apakah anda mengalami hal tersebut?

Dibawah ini sedikit tips bagi anda dalam menumbuhkan minat anak agar giat belajar:

  • Batasi kegiatan anak diluar rumah.
  • Buatlah anak merasa nyaman dan senang disaat belajar.
  • Bimbing anak dalam belajar, dengan memberikan arahan tanpa memberikan hasil jawaban.
  • Kombinasikan dalam mengerjakan tugas dengan permainan atau hiburan, dalam hal ini anda bisa menggunakan media visual atau penglihatan dalam memberikan arahan.
  • Berikan jeda waktu untuk istirahat selama 5 menit agar anak tersebut tidak mengalami kejenuhan. Dalam hal ini jika anak mengalami kejenuhan akan memotivasi anak tersebut akan malas belajar.
  • Hindari ancaman atau kekerasan dalam membimbing anak dalam mengerjakan tugas.
  • Gunakan metode mendongeng sebagai proses belajar anak, dan hingga kini proses tersebut masih saya jalani dan terbukti lebih mudah dicerna oleh anak.

Kamis, 07 Februari 2008

Ternyata Pengendalian Diri Pada Remaja Itu Hal Utama

Perlukah Pengendalian Diri Pada Remaja?

Remaja memerlukan pengendalian diri kerana remaja belum mempunyai pengalaman yang memadai dalam perkara ini. Masa remaja banyak menyentuh perasaan seorang remaja sehingga menimbulkan jiwa yang sensitif dan peka terhadap diri dan lingkungannya. Perkembangan ini ditandai dengan cepatnya pertumbuhan fizikal dan seksual. Akibat dari pertumbuhan fizikal dan seksual yang cepat itu maka timbullah kegoncangan dan kebingungan dalam diri remaja, khususnya dalam memahami hubungan lain jenis.
Dari keadaan yang dihadapi remaja ini akan menimbulkan dua masalah. Pertama dorongan seksual kerana ingin membuktikan bahawa diri telah dewasa sehingga berakhlak yang kurang sopan di tengah masyarakat, sehingga orang ramai menilai bahawa remaja hanya menimbulkan masalah. Padahal ketika itu remaja sedang meraba-raba dalam mencari jatidirinya.Kedua, mungkin juga remaja hilang kendali dalam dirinya sehingga lebih cenderung mengikuti nafsunya itu, ataupun remaja lebih suka menyendiri dan menutup diri.
Remaja yang merasakan bahawa fizikalnya sudah seperti orang dewasa sehingga ia merasa pula harus bersikap seperti orang dewasa untuk menutup keadaan dirinya yang sebenar harus memahami bahawa anggapannya itu hanya sekadar imitasi atau peniruan. Untuk itu remaja harus pandai mengendalikan diri dalam menghadapi dunia yang penuh dengan pancaroba dan gejolak ini. Hindarilah dari hanya mengikut kehendak hati, tapi gunakanlah fikiran agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mengikuti citarasa ibu bapa, masyarakat dan agama.

Senin, 04 Februari 2008

Rasa Kebebasan Remaja Patuh Dilihat

Bagaimana Sih Rasa Kebebasan Remaja ?

Pada usia remaja sangat memerlukan kebebasan emosional dan material. Kematangan dalam bidang fizikal atau tubuh mendorong remaja untuk berdikari dan bebas dalam mengambil keputusan untuk dirinya sehingga remaja terlepas dari emosi ibu bapa dan keluarga. Ramai ibu bapa tidak memahami keinginan yang tersimpan di dalam jiwa remaja, sehingga membatasi sikap, keperibadian dan tindakan-tindakan mereka, dengan alasan merasa belas kasihan dan lain-lain. Dengan cara ibu bapa sedemikian remaja merasa dirinya tidak dipercayai oleh orang tuanya, akibatnya remaja yang tidak memahami akan hakikat dirinya sendiri akan memberontak dan melawan kepada kedua ibu bapa.
Remaja yang beriman akan mengerti bahawa rasa kebebasan yang timbul dari dalam dirinya itu bukan selamanya harus dituruti, tetapi harus diatasi dengan cara yang bijaksana. Memang betul dalam satu aspek remaja memerlukan kebebasan untuk menentukan keputusannya, namun dari aspek lain remaja masih memerlukan orang tua untuk membimbing dan memberi tunjuk ajar kepadanya. Jadi berfikirlah secara positif agar tuntutan dalam diri itu tidak mengalahkan tuntutan dan kehendak mulia orang tua terhadap diri anaknya. Jika ini dapat diatur secara efektif maka tidak akan timbul konflik kejiwaan dalam diri seorang remaja.

Jumat, 01 Februari 2008

Rasa Kekeluargaan Antar Remaja Perlu Ditingkatkan

Bagaimana Rasa Kekeluargaan Remaja ? Apakah Perlu Ditingkatkan ?

Sebetulnya keperluan remaja terhadap kebebasan diri sendiri dan ingin berdikari itu bertentangan dengan keperluannya untuk bergantung terhadap ibu bapanya. Gejolak jiwa tersebut membuat remaja merasa tidak aman, kerana dari satu aspek ia sangat memerlukan keluarganya, namun dari segi yang lain dia ingin berdakari. Pengalaman kejiwaan semacam ini menyebabkan remaja menjadi bingung dan tidak menentu. Bagi remaja yang mengerti peristiwa yang sedang menimpa jiwanya dia akan berhati-hati dalam mengmbil sebarang tindakan, sehingga ia akan menjadi remaja yang tidak tertekan perasaan.
Rasa kekeluargaan dalam diri remaja ini bukan saja terjadi dalam lingkungan ibu bapa dan sanak saudara, tetapi juga pada kelompok teman seperjuangan, organisasi, sukan dan lain-lain. Jika perasaan ini disemai dengan baik, maka remaja tidak akan mengalami stres dan tekanan perasaan dan menjadikan kecenderungan jiwanya itu ke arah yang positif.

Langganan Artikel

Daftarkan Email Anda, untuk mendaptkan berita terbaru dari "Dokter Gaul"

Total pelanggan :

Enter your email address:

Tanya Dokter Gaul